"tadi kamu bicara apa?"

"tentang?"

"tadi... sebelum ini?"

"oo... sudahlah, toh sebelum ini kita tidak kenal. tidak ada gunanya kamu tahu masa laluku"

Mengingatmu dalam kesederhanaan

“Ayo kita pacaran.”

Satu kalimat sederhana yang mengubah duniaku saat itu. Kujawab hanya dengan anggukan ringan tapi kegembiraan yang meluap tumpah-ruah itu tidak bisa kusembunyikan dari senyumku.

kesederhanaan itu justru membuatku selalu mengingatmu. Dalam kesendirianku.

Menjalani hari seperti putri negeri dongeng dan merasa dunia ini sempurna karena ia yang mencintaiku, membuat ego-ku bahkan melupakan suatu hari bisa saja semua jejak mimpi hari ini akan berakhir esok harinya.

Kadang ia datang memberiku kejutan dengan senyum manisnya sambil membawa sebuket bunga dan sengaja ia serahkan tepat satu tahun kami berpacaran. Oh, tidak hanya perayaan-perayaan kecil saja, bisa jadi ia datang ke tempat aku sedang menghabiskan waktu dengan keluarga besarku. Tanpa memberitahu, tentu saja.

sungguh, perhatiannya yang sederhana membuatku semakin sayang padanya.

Aku bukan tipe orang yang ingin menuntut pacarku ini itu, mengatakan ini itu sampai bosan mendengarnya. Walaupun satu-dua kali mengharapkan kata-kata cinta keluar dari bibirnya.

Di antara satu-dua kali itu, yang kuingat adalah yang kedua kali. Satu kali saat ia menyatakan cinta. Dan kedua kali, saat kami berpisah. Mungkin ada yang berpikir bagaimana bisa saat akan berpisah, ujungnya mengatakan cinta?

Bisa, itu ada di kisahku.

Pasti ada beberapa pihak yang berpikir, bahwa pernyataan cinta terakhirnya adalah bohong, hanya karena ia ingin berpisah tapi tidak ingin melukaiku. Tidak, aku yakin itu pasti tulus. Ketika ia mengatakan cinta dalam nafas terakhirnya. Ketika ia mengatakan bahwa aku adalah seluruh bagian dari hidupnya yang tersisa.

Nafas terakhir yang bahkan sangat kurasakan rasa perihnya untuk melawan penyakit yang bersarang dalam dirinya itu selalu sesak untuk kuingat.

Kugenggam tangan dingin itu ketika roh kehidupannya sudah berpisah jauh dengan jiwanya yang terdiam kaku. Kuteteskan satu air mata yang berlanjut dengan histeris keluarga almarhum yang saling bersahut-sahutan. Aku hanya bisa diam dan semua gerakan di depanku bagai slow motion dalam hitam putih.

Saat ini aku berjongkok di sebelah nisan kuburnya dan menyebarkan bunga-bunga segar yang kubeli di depan pintu pemakaman oleh gadis-gadis kecil yang mengerubutiku untuk menawarkan bunga-bunga yang saat ini sudah berpindah ke atas kuburan almarhum.

Kuusap pelan ukiran namanya dan aku tersenyum kecil, “Kudoakan kau bahagia. Sama sepertiku.” Kulemparkan senyum itu, ke arah orang di sebelahku yang sudah melingkarkan cincin ke jari manisku.

#writingproject #hurufkecil #50% fiksi ;)

Tiba-tiba teringat…

Tiba-tiba teringat kamu.

Ya… kamu yang jauh di sana, cerita cinta saya jaman SMP.

aku sudah pernah menuliskan tentang kamu di tumblr ini. tapi sudah cukup lama. saat ini saya melihatmu lagi dan… saya rindu. kamu semakiiiiiin jauh ke depan. luar biasa! satu hal lagi, kamu makin jauh meninggalkanku. senyummu itu teringat dalam memori otakku dan melihat icon FB mu online saja, entah mengapa aku rindu.

hei, kalau bisa kembali ke zaman itu, bolehkah saya mengajukan permintaan?

bahwa kita bisa berteman lebih baik? bahwa kita bisa menghabiskan waktu lebih banyak? bahwa kita bisa berbagi cerita dan mimpi bersama-sama?

mengapa Tuhan menciptakan orang seluarbiasa kamu? kenapa Tuhan seolah tidak adil membagi kepandaianmu yang tanpa batas? mengapa Tuhan berani memberikan semua itu padamu.

aku ingin berteriak dan mengatakan padamu bahwa aku ingin sekali berjalan beriringan denganmu lagi.

ah itu cerita lama.

simpan sajalah

—- Dyah, mendingan lo cepat” posting deh -_-

Lagi-lagi…

Nggak tahu mau posting apa.

kalimat pertama nan tolol yang sempat terlintas di otak gue. What? Ade? Bingung mau nulis apa? otak gue mulai nggak bener kelihatannya.

Tiba-tiba perasaan hati gue nggak enak (banget). Gue lagi senang banget kok. Hanya aja tiba-tiba kayak ada yang kurang.

Elo.

iya elo yang di sana. Tolong lebih tegas dan harus lo tahu, gue orangnya blak-blakan dan tanpa ampun dalam menyampaikan sesuatu. kalau gue marah, gue akan melantangkan sesuatu itu sampai lo dengar.

sayangnya gue kecewa. dan ternyata hasilnya lebih dalam. sayangnya, kalau gue kecewa, gue akan tetap bicara seperti biasa dengan lo tapi tanpa arti lagi.

Maaf kalau tiba-tiba kamu tidak begitu berarti lagi untukku.

Ya ampun! gue pasti kangen berat dgn 3 Mahasiswi imut dari Jepang di atas!
dari ujung, namanya Saki-chan, terus Fukiko-chan dengan Rika-chan :D
Mereka mahasiswi yang homestay dirumah gue selama dua hari! dua hari yang sangat menyenangkan sekaligus menggembirakan! :’)

Ya ampun! gue pasti kangen berat dgn 3 Mahasiswi imut dari Jepang di atas!

dari ujung, namanya Saki-chan, terus Fukiko-chan dengan Rika-chan :D

Mereka mahasiswi yang homestay dirumah gue selama dua hari! dua hari yang sangat menyenangkan sekaligus menggembirakan! :’)

ladykepikdyah:

Ya. Sebenernya setiap kita bicara di telepon berjam-jam seperti ini, banyak sekali yang bisa kita petik, bahkan mungkin jika kita bicara sambil menulis maka kita akan sama-sama tahu, bahwa kita tidak pernah bicara kosong, saya yakin tidak akan pernah.

Akan selalu ada topik tentang cinta (tentu saja), tentang hidup, tentang persahabatan, tentang musik, tentang seseorang, tentang politik, tentang Anime, tentang negara, tentang agama, tentang masa lalu, tentang keluarga, tentang hukum, tentang pekerjaan, tentang cuaca, tentang seni rupa, juga tentu saja tentang Korea (akhir-akhir ini).

Itulah yang membuat saya rela menelpon kamu berjam-jam, tidak peduli pulsa, tidak peduli waktu, dan karena saya tidak pernah merasa rugi sedikitpun, sekalipun sepanjang waktu memang kamu yang lebih dominan bicara.

Dan memang kamu hanya punya saya dan saya hanya punya kamu untuk teman bicara tentang topik apa saja.

Memang tidak setiap hari kita bicara, tapi rasanya rutin sekali. Seperti ada jadwal walaupun sebenarnya tidak. Jujur saja, bagi saya rasanya ini seperti kebutuhan. Kebutuhan untuk meluapkan apa yang tidak bisa saya luapkan dimanapun. Tidak bisa saya tulis, tidak bisa saya ceritakan pada orang lain, atau sekalipun saya tulis dan saya ceritakan pada yang lain, rasanya tetap saja masih mengganjal jika belum melaporkannya pada kamu.

Yang saya butuhkan bukan apa-apa juga, hanya pendapat atau omelan kamu yang khas memekakkan telinga dan membuat layar hape saya benar-benar basah. Saya senang ketika kamu merasa kesal dengan cerita saya, entah karena saya yang terlalu bodoh, atau karena objek cerita saya yang memang menyebalkan.

Saya, juga jutaan Aquarius yang lain hanya membutuhkan itu, perasaan dihargai dan perasaan diperhatikan, secara tulus serius dan bukan dengan terpaksa atau paksaan. Saya, mungkin juga jutaan Febuari yang lain hanya membutuhkan teman bicara dimana kami bisa meninggalkan image tertutup dan interovert ini secara natural. Bukan karena terpaksa atau paksaan.

Bukan, bukan orang yang ketika saya bicara maka matanya akan pergi ke arah lain, juga pikirannya yang pergi ke dunia lain dan bukan tertuju pada apa yang saya coba utarakan.

Bukan, bukan orang yang ketika saya bercerita maka dia akan memotong cerita saya dengan ceritanya seolah tidak mau kalah padahal saya belum selesai bicara dan akan sangat sulit untuk saya melanjutkannya kembali.

Bukan, bukan orang yang ketika saya berkeluh kesah maka dia akan mengomentarinya dengan nada standar yang amat datar yang benar-benar tidak saya butuhkan.

Bukan, bukan orang yang pada awalnya memaksa saya untuk bercerita, kemudian ketika saya benar-benar bercerita, maka tanggapannya seperti dia sangat tidak antusias dengan apa yang saya ungkapkan. Padahal, tahukah dia bahwa saya sudah menduganya dari awal, makanya saya tidak mau bercerita, karena saya sudah tahu pada akhirnya saya hanya akan mendapatkan tanggapan mengacuhkan padahal saya sudah mati-matian mengeluarkan semuanya?

Bukan, bukan yang seperti itu yang saya butuhkan.

Bukan, itu bukan kamu.

Dan saya sungguh hanya bisa mengeluarkan semuanya dengan kamu, Leo.

Saya yakin, ketika kamu membaca ini kamu akan merasa terbang keawang-awang, kamu senang dipuji, dan saya tulus, benar-benar tidak menemukan orang lain selain kamu. Dua tahun belakangan ini kita terpisah, sama-sama memiliki kehidupan lain yang baru, sama-sama mencari kenyamanan lain seperti yang pernah kita temukan dulu, tapi sadarkah kamu, bahwa kita pada akhirnya akan saling mencari lagi satu sama lain, kemudian menemukan satu sama lain.

Saya tahu kamu, kamu tahu saya. Adakah sesuatu yang kita rahasiakan? Entahlah, tapi saya percaya apapun yang kita rahasiakan dari satu sama lain tidak akan membahayakan hubungan kita.

Saya tahu kamu, kamu adalah orang yang sangat sensitif dan mudah jatuh sebenarnya, dan dunia luar hanya tahu bahwa kamu adalah si periang yang selalu cheer-people-up dan berisik luar biasa.

Kamu tahu saya, saya adalah orang yang sangat ingin menunjukkan perasaan saya, bagaimana saya gembira, bagaimana saya melucu, marah dan sedih, dan dunia luar hanya tahu bahwa saya adalah si tertutup yang terlihat selalu galau dan meyeramkan.

Dan kita sama-sama bisa menunjukkan siapa kita sebenarnya dihadapan kita masing-masing secara nyaman.

Entahlah, kita tidak sering terlihat bersama, karena kita memang jarang pergi bersama, jarang pula memiliki foto bersama, tapi sebenarnya kita lebih dekat daripada yang dilihat orang. Kita tidak dekat secara luar, tapi kita dekat secara dalam, karena itulah yang kita butuhkan.

Secara luar, kamu dan saya potensial memiliki banyak sekali teman, banyak sekali, tapi secara dalam, hanya sedikit sekali orang-orang yang sanggup mengerti kita, sanggu memahami kita, dan mengetahui apa kita butuhkan tanpa kita harus bicara.

Ah, saya bersyukur mengenal kamu, saya bersyukur menemukan kamu.

Bahkan jika memungkinkan, akankah saya akan melamar kamu lalu menjadikan kamu suami saya? Bayangkan berapa berisiknya rumah kita nanti hanya karena pembicaraan kita berdua yang sangat heboh luar biasa.

Bayangkan kita minum teh lalu nonton berita di tv bersama, akankah kita saling melempar gelas hanya karena saya bersikeras mendukung president kita -yang lingkar hitam di matanya kian hari kian menggelap- yang sangat saya idolakan sementara kamu tidak setuju karena menganggap president -yang sangat saya idolakan- itu adalah orang yang sangat lamban dan plin-plan sehingga banyak sekali permasalahan yang tidak selesai?

Ah, saya mengkhayal terlalu jauh. Tampar saya, Leo.

Kalau di ramalan manapun juga memang sangat jelas tertulis bahwa Leo dan Aquarius adalah jodoh yang sangat serasi, saya mulai percaya akan hal itu ketika saya menyadari bahwa kita yang sering sekali berbeda pendapat ataupun selera ini sesungguhnya sangat toleran satu sama lain. Hitung berapa kali kita pernah berkelahi? Bisakah kamu hitung? Saya tidak bisa, karena hitungan saya adalah NOL.

Bukan, bukannya kita tidak pernah kesal satu sama lain, saya yakin kamu pernah kesal terhadap saya begitu pula saya, namun entah apa yang membuat semua kekesalah dan kemarahan itu sangat mudah untuk dimaafkan.

Saya akan langsung bicara padamu tanpa takut akan reaksimu ketika saya membencimu, karena percayalah saya yakin kamu tidak akan marah. Kamu menyukai orang yang berterus terang jika membencimu, bukannya membicarakanmu di belakang, maka saya akan bicara bahkan akan berteriak padamu.

Bisakah saya temukan hal-hal seperti ini pada orang lain sepertimu?

Perlukah saya segera mencari orang lain yang menyerupai kamu mengingat saya sangat membutuhkan tipe-tipe seperti kamu sementara tidak setiap saat kita bisa bicara juga bertemu?

Sepertinya tidak, jangan.

Saya hanya akan membuat orang itu menjadi tiruanmu. Itu tidak baik. Lagi pula semua orang itu unik, dan dirimu adalah orang yang paling membuatku nyaman bicara dan mengungkapkan perasaan.

Bukan, ini bukan tentang keluhan, ini adalah syukuran. Betapa mencari dan menemukan seseorang yang memahamimu adalah perjalanan panjang.

Dan akhirnya memang hanya kamu yang saya cari dan memang hanya saya yang kamu temukan.

Tidak ada lain.

Tidak akan menemukan yang lain.

Bagaimana dengan kamu?

Ah, panjang juga tulisan ini, semuanya mengalir begitu saja. Bagaimana jika saya menelponmu sekarang? Hm, Leo? :)

#Leo #Aquarius

(Source: marooncrescent)

(Source: marooncrescent)

ladykepikdyah:

tadi nemu quote chat di tumblrnya si abang ganar firmannanda, saya copy (tanpa ijin, maap bang :P) terus saya masukin twitter :

Hosni Mubarak : “It’s enough, I give up. I don’t know how could you handle it in your country, huh?”

SBY : “I sing.”

terus di reply sama Ade Tiffany Pasha…

Ade : “Tumben nyindir.”

Dyah : “Biasanya gue muji mulu ya? (golongan pro-SBY-forever) Itu kan muji juga, suaranya emang bagus.”

Ade : “Apaan, itu mah nyindir. “Bagaimana bisa anda bertahan?” Jawabannya “Saya nyanyi” wkwk. (gausah ditranslate kali de…-_-)

akhirnya, terjadilah lanjutan percakapan antara SBY-Masyarakat via Saya-Ade.

SBY (dyah) : “Karena nyanyian saya menyentuh hati seluruh masyarakat Indonesia :)”

Masyarakat (ade) : “”Aduh Pak, yang menyentuh hati saya itu dengan cara kesejahteraan masyarakat, bukannya pake nyanyian. Kalo Bapak tuh Super Junior, mungkin laen soal :D”

SBY (dyah) : “Ya sudah, kalau memang SUJU bisa menyejahterakan masyarakat Indonesia, maka saya akan panggil mereka kemari”.

Masyarakat (ade) : “HOREEEEE!!!” Dalam hati terkekeh.

Ternyata politik propaganda selalu berhasil wkwkwk.

Yap, politik propaganda adalah andalan terakhir ketika kesejahteraan masyarakat sekarang ditentukan oleh #fuckyeahsuperjunior :D

(Source: marooncrescent)

sekedar pengingat; —>

Personil MCC UP Piala Kejaksaan Agung II:

1) Ade Tiffany Pasha (Saksi Mahkota PU-Lola Andriani)

2) Aldaova Flanopsky Erton (Saksi PU-Muhtadi Effendi/Jun Jun)

3) Ardiatma Danu (Official)

4) Andha Fharaza (Official)

5) Dimas Akbar Ardinta (Official)

6) Nurlinda Sagala (Official)

7) Yogi Amrullah (Official)

8) Hilda Silvia Yoga (Panitera)

9) Melisa Safitri Rosadi (Hakim Ketua Majelis)

10) Sinta Desma Karti (Hakim Anggota I)

11) Rafli Pramudya (Hakim Anggota II)

12) Vicky Tamara (Hakim Anggota III)

13) Handi Alifta Mahendra (Hakim Anggota IV)

14) Handy Sihotang (Sipir)

15) Andhika Prayoga (Jaksa Penuntut Umum I)

16) Widyawati (Jaksa Penuntut Umum II)

17) Billy Sandro Primadita (Penasehat Hukum I)

18) Laras Wijayanti (Penasehat Hukum II)

19) Farhan Maulana Makki (Terdakwa-Ramos Ritonga)

20) Rudi Marluhut Pardosi (Saksi Mahkota PU -Ikhsan Harahap//Juru Sumpah)

21) A. Rivan Utama (Saksi PH-Sandro Billy//Juru Sumpah)

——-

22) Muhammad Zulfikar (Saksi PU-Muhtadi Effendi/Jun Jun) *Batal ikut di hari terakhir karena DBD dan tifus. Sayang sekali… :(

[Flash 9 is required to listen to audio.]

Teringat masa-masa di Kejaksaan Agung. Banyak cinta bersemi yang harus ditinggalkan semua pelakunya. Diseberang pulau :)

Impian gue salah satunya, berkantor disini! amiiin :)

Impian gue salah satunya, berkantor disini! amiiin :)